Beranda | Artikel
Penukaran Uang yang Tidak Tunai
Minggu, 17 Maret 2013

Seperti telah kita ketahui bersama bahwa syarat dalam shorf (money changer atau penukaran mata uang) adalah harus tunai, atau dikatakan dalam hadits yadan bi yadin. Namun bagaimanakah jika kita melakukan penukaran uang, lantas pihak yang ingin kita tukar hanya punya sedikit uang dan sisanya akan diserahkan di waktu lain? Apakah seperti ini dibolehkan?

Hal yang mempersyaratkan harus tunai disebutkan dalam hadits berikut,

الذَّهَبُ بِالذَّهَبِ وَالْفِضَّةُ بِالْفِضَّةِ وَالْبُرُّ بِالْبُرِّ وَالشَّعِيرُ بِالشَّعِيرِ وَالتَّمْرُ بِالتَّمْرِ وَالْمِلْحُ بِالْمِلْحِ مِثْلاً بِمِثْلٍ سَوَاءً بِسَوَاءٍ يَدًا بِيَدٍ فَإِذَا اخْتَلَفَتْ هَذِهِ الأَصْنَافُ فَبِيعُوا كَيْفَ شِئْتُمْ إِذَا كَانَ يَدًا بِيَدٍ

Jika emas dijual dengan emas, perak dijual dengan perak, gandum dijual dengan gandum, sya’ir (salah satu jenis gandum) dijual dengan sya’ir, kurma dijual dengan kurma, dan garam dijual dengan garam, maka jumlah (takaran atau timbangan) harus sama dan dibayar kontan (tunai). Jika jenis barang tadi berbeda, maka silakan engkau membarterkannya sesukamu, namun harus dilakukan secara kontan (tunai).” (HR. Muslim no. 1587)

Guru kami, Syaikh Dr. Sa’ad bin Turkiy Al Khotslan yang saat ini menjabat sebagai anggota Hay-ah Kibaril ‘Ulama –semoga Allah memberkahi dan menjaga beliau– ditanya,

أحيانا أحتاج لصرف مبلغ  نقدي  (500 ريا ل  مثلا )فأجد من عنده 400ر يال يعطيني إياها والباقي يسلمه لي فيما بعد فهل هذا جائز ؟

“Terkadang aku membutuhkan penukaran uang tunai 500 riyal -misalnya-, namun aku dapati pada orang yang aku ingin tukar uangnya hanya ada 400 riyal yang bisa ia beri sementara. Sisanya akan diberikan padaku setelah beberapa waktu. Apakah seperti itu boleh?”

Syaikh Sa’ad menjawab,

“Tentang bolehnya mu’amalah tersebut terdapat khilaf (perselisihan pendapat) di kalangan para ulama. Sebagian mereka ada yang membolehkan, sebagian lagi melarang karena yang sisa dari penukaran tersebut tidak diserahkan secara qobdh (tunai). Alat tukar menukar seperti emas dan perak dipersyaratkan semisal dan tunai ketika ditukar dalam satu jenis. Sedangkan ulama lain ada yang membolehkan karena dianggap bahwa 400 riyal yang diserahkan pertama sudah tunai (qobdh) sedangkan sisanya 100 riyal dianggap sebagai amanat atau titipan pada sisi pelaku yang ingin ditukarkan uang. Inilah pendapat yang menurutku lebih tepat. Sebagian pakar fikir dalam madzhab Hambali juga ada yang menyatakan seperti itu.

Dalam kitab Al Mughni (4: 192) karya Ibnu Qudamah rahimahullah disebutkan, “Jika seseorang menukar 10 dirham dengan uang dinar, lalu ternyata dinar yang diberi lebih banyak dan kewajiban dirham yang sisa akan diberi pada waktu lain, maka itu boleh meskipun uang sisanya tadi diserahkan dalam waktu yang lama. Uang yang berlebih tadi dianggap sebagai amanat di tangan si penukar uang. Jika ada yang rusak, maka ia tidak punya kewajiban menanggungnya (layaknya amanat, -pen). Permasalah seperti ini banyak disebutkan oleh Imam Ahmad”. (Sumber fatwa Syaikhuna: http://www.saad-alkthlan.com/text-853)

Semoga bermanfaat bagi pembaca Rumaysho.com. Hanya Allah yang memberi petunjuk dan pemahaman.


Artikel asli: https://rumaysho.com/3234-penukaran-uang-yang-tidak-tunai.html